Fenomena Tumbler: Gaya Hidup Gen Z Dan Kesadaran Lingkungan

tumbler

EdukasiPlus.id – Penggunaan tumbler kini  telah menjadi simbol gaya hidup di kalangan generasi Z atau Gen Z, terutama di masyarakat urban.

Gaya hidup yang bernilai positif ini mencerminkan kepedulian mereka terhadap lingkungan, kesadaran terhadap kesehatan sekaligus identitas mereka sebagai orang terdidik.

Gen Z yang jumlahnya lebih dari 45 juta jiwa di Indonesia, memandang tumbler sebagai langkah kecil mereka menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi pengunaan botol plastik sekali pakai.

Artinya, mulai tumbuh kesadaran di kalangan Gen Z dalam  menjaga lingkungan untuk  kehidupan dan masa depan mereka.

Tumbuhnya kesadaran ini tidak terlepas dari peran media sosial yang familiar dengan kehidupan Gen Z yang berusia kurang dari 27 tahun.

Di sisi lain, lingkungan kerja, lingkungan sosial dan lingkungan pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap pengunaan  tumbler.

Di sejumlah perkantoran, misalnya, kini penggunaan gelas sudah sangat dibatasi. Sebagai gantinya disediakan galon berisi air yang bisa digunakan untuk mengisi tumbler.

“Gelas dilarang dibawa ke meja kerja setelah ada kasus gelas tersenggol dan airnya tumpah mengenai dokumen dan laptop,” kata Muhammad Izqian (26) yang berkantor di Kawasan SCBD Jakarta. Sebagai gantinya karyawan dianjurkan menggunaan tumbler.

Di sejumlah sekolah dan kampus, penggunaan tumbler juga kini semakin meluas. Banyak mahasiswa dan pelajar yang sengaja memilih tas atau ransel yang dilengkapi tempat untuk penyimpanan tumbler.

Ada rasa bangga jika terlihat menggunakan tumbler, dibandingkan membawa botol air minum sekali pakai, karena mencerminkan mereka sudah ramah lingkungan.

“Suka  diledek teman-teman jika ke kampus membawa botol air minum sekali pakai. Dituding katrok, karena tidak peduli lingkungan,” kata Anitasari (19), mahasiswi Universitas Padjajaran di Jatingangor Sumedang yang juga kerap naik gunung.

Selain  lebih peduli lingkungan,  penggunaan  tumbler juga lebih sehat karena bersifat personal dan tidak digunakan orang lain.

Baca Juga:  Menelisik Desain dan Pengorganisasian Informasi Dengan Metode Piramida Terbalik

Penggunaan tumbler juga lebih hemat dan praktis, karena di berbagai tempat umum seperti stasiun kini mulai disediakan air galon untuk mengisi ulang tumbler.

“Tumbler sekarang seperti smartphone. Terasa ada  yang kurang jika bepergian tidak membawa tumbler,” kata Galih Pangestu (20), mahasiswa  di Depok, Jawa Barat.

Ditilik dari sejarahnya, tumbler bukanlah barang baru. Masyarakat Mesir Kuno pada 6.000 SM sudah menggunakan kantung  air untuk perjalanan jauh dengan menggunakan kulit binatang.

Masyarakat di Asia dan Afrika  ada juga yang menggunakan kulit labu yang dikeringkan untuk wadah air dalam perjalanan jauh.

Sementara di dunia militer, sudah lama dikenal veples atau tempat air minum yang digantungkan di pinggang.

Tumbler seperti bentuk yang sekarang  pertama kali dibuat tahun 1946 oleh Earl Silas Tupper (1907-1983), seorang insinyur kimia di Amerika Serikat pendiri  dan membuat produk Tupperware.

Perusahaan global yang memproduksi peralatan rumah tangga ini pertama kali membuat tumbler  berbahan  plastik polipropilane, dilengkapi tutup yang bisa diputar untuk membuka dan menutupnya.

Dalam perkembangannya, tumbler memiliki desain, ukuran dan fitur yang sangat  beragam termasuk tumbler yang memiliki isolasi panas dan dingin untuk menjaga suhu minuman.

Kampanye panggunaan tumbler juga semakin melus di dunia.

Dalam berbagai pertemuan atau konferensi internasional,  peserta konferensi dibagikan tumbler sedangkan air dalam galon untuk mengisi tumbler disediakan di beberapa titik.

Kini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, penggunaan tumbler semakin meluas dan bahkan sudah menjadi gaya hidup terutama di kalangan Gen Z. Apakah Anda juga menggunakan tumbler? (YON)
Artikel Terkait:

Share this:

Facebook
Telegram
WhatsApp